Saturday, November 2, 2013

Kisah Kunjungan Lima Ratus Bhikkhu (Dhammapada 6 : 87-89)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana 


(87) Meninggalkan rumah dan pergi menempuh kehidupan tanpa rumah, 
demikian hendaknya orang bijaksana meninggalkan keadaan gelap (kebodohan), 
dan mengembangkan keadaan terang (kebijaksanaan). 
Hendaknya ia mencari kebahagiaan pada ketidakmelekatan yang sulit didapat.

(88) Dengan meninggalkan semua kesenangan indria dan kemelekatan, 
demikian hendaknya orang bijaksana membersihkan dirinya
dari noda-noda pikiran.

(89) Mereka yang telah menyempurnakan pikirannya
dalam Tujuh Faktor Penerangan, 
yang tanpa ikatan, yang bergembira dengan batin yang bebas, 
yang telah bebas dari kekotoran batin, yang bersinar, 
maka sesungguhnya mereka telah mencapai Nibbana
dalam kehidupan sekarang ini juga.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lima ratus bhikkhu yang menjalani masa vassa di Kosala, datang untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha di Vihara Jetavana pada akhir masa vassa.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini sesuai dengan berbagai perangai mereka:

"Kaṇhaṃ dhammaṃ vippahāya
sukkaṃ bhāvetha paṇḍito,
okā anokaṃ āgamma
viveke yattha dūramaṃ.

Tatrābhiratim iccheyya, hitvā kāme akiñcano
pariyodapeyya attānaṃ cittaklesehi paṇḍito.

Yesaṃ sambodhi-aṅgesu sammā cittaṃ subhāvitaṃ
ādānapaṭinissagge anupādāya ye ratā
khīṇāsavā jutīmanto te loke parinibbutā."

Meninggalkan rumah dan pergi menempuh kehidupan tanpa rumah,
demikian hendaknya orang bijaksana meninggalkan keadaan gelap (kebodohan),
dan mengembangkan keadaan terang (kebijaksanaan).
Hendaknya ia mencari kebahagiaan pada ketidakmelekatan yang sulit didapat.

Dengan meninggalkan semua kesenangan indria dan kemelekatan,
demikian hendaknya orang bijaksana membersihkan dirinya
dari noda-noda pikiran.

Mereka yang telah menyempurnakan pikirannya
dalam Tujuh Faktor Penerangan,
yang tanpa ikatan, yang bergembira dengan batin yang bebas,
yang telah bebas dari kekotoran batin, yang bersinar,
maka sesungguhnya mereka telah mencapai Nibbana
dalam kehidupan sekarang ini juga.

Kisah Pendengar-pendengar Dhamma (Dhammapada 6 : 85-86)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(85) Di antara umat manusia
hanya sedikit yang dapat mencapai pantai seberang, 
sebagian besar hanya berjalan hilir mudik di tepi sebelah sini.

(86) Mereka yang hidup sesuai dengan Dhamma
yang telah diterangkan dengan baik,
akan mencapai Pantai Seberang,
menyeberangi alam kematian yang sangat sukar diseberangi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu kesempatan, sekumpulan orang dari Savatthi bersama-sama membuat persembahan khusus kepada para bhikkhu, dan mereka meminta para bhikkhu memberikan khotbah Dhamma sepanjang malam di tempat mereka. Pada saat itu, banyak di antara para pendengar tidak dapat duduk sepanjang malam dan pulang lebih cepat; beberapa orang duduk disana sepanjang malam, tetapi sebagian besar waktunya dihabiskan dengan mengantuk dan setengah tidur. Hanya sedikit orang yang mendengarkan dengan penuh perhatian khotbah Dhamma itu.

Pagi hari para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha tentang apa yang terjadi pada malam hari sebelumnya, Beliau menjawab, "Kebanyakan orang terikat pada dunia ini, hanya sedikit orang yang dapat mencapai pantai seberang (nibbana)".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Appakā te manussesu ye janā pāragāmino
athāyaṃ itarā pajā tiram evānudhāvati

Ye ca kho sammadakkhāte
dhamme dhammānuvattino
te janā pāram essanti
maccudheyyaṃ suduttaraṃ."

Di antara umat manusia
hanya sedikit yang dapat mencapai pantai seberang,
sebagian besar hanya berjalan hilir mudik di tepi sebelah sini.

Mereka yang hidup sesuai dengan Dhamma
yang telah diterangkan dengan baik,
akan mencapai Pantai Seberang,
menyeberangi alam kematian yang sangat sukar diseberangi.

Kisah Bhikkhu Dhammika (Dhammapada 6 : 84)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(84) Seseorang yang arif tidak berbuat jahat
demi kepentingannya sendiri ataupun orang lain,
demikian pula ia tidak menginginkan anak, kekayaan, pangkat
atau keberhasilan dengan cara yang tidak benar.
Orang seperti itulah yang sebenarnya luhur, bijaksana, dan berbudi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dhammika tinggal di Savatthi bersama istrinya. Suatu hari, ia berkata kepada istrinya yang sedang hamil bahwa ia berkeinginan untuk menjadi seorang bhikkhu. Istrinya memohon kepadanya untuk menunggu sampai kelahiran anak mereka. Ketika anak tersebut lahir, ia kembali meminta kepada istrinya untuk memperbolehkannya pergi. Sekali lagi istrinya memohon kepadanya untuk menunggu sampai anak tersebut dapat berjalan.

Kemudian Dhammika berkata kepada dirinya sendiri, "Tidak ada gunanya bagiku meminta persetujuan dari istriku untuk menjadi bhikkhu, saya harus berjuang untuk kebebasanku sendiri!" Setelah membuat keputusan teguh, ia meninggalkan rumahnya untuk menjadi seorang bhikkhu. Sang Buddha memberikan objek meditasi kepadanya, dan ia mempraktekkan meditasi dengan sungguh-sungguh dan rajin, tak lama kemudian ia menjadi seorang arahat.

Beberapa tahun setelah itu, beliau menengok rumahnya dengan maksud untuk mengajarkan Dhamma kepada istri dan anaknya. Anaknya menjadi bhikkhu dan kemudian mencapai tingkat kesucian arahat. Sang istri kemudian berkata, "Sekarang suami dan anakku telah meninggalkan rumah, saya lebih baik pergi juga." Dengan pikiran ini, ia juga meninggalkan rumah dan menjadi bhikkhuni, dan akhirnya ia juga mencapai tingkat kesucian arahat.

Dalam pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha diberitahukan bagaimana Dhammika menjadi seorang bhikkhu dan mencapai tingkat kesucian arahat, dan karena melalui Dhammika, anak dan istrinya juga menjadi arahat.
Kepada mereka Sang Buddha bersabda, "Para bhikkhu, orang bijaksana tidak menginginkan kekayaan dan kemakmuran yang diperoleh dengan cara tidak benar. Apakah hal itu dilakukan demi dirinya sendiri atau demi orang lain. Ia berjuang hanya untuk pembebasan dirinya dari roda tumimbal lahir (samsara) dengan cara memahami Dhamma dan hidup sesuai dengan Dhamma."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Na attahetu na parassa hetu
na puttam icche na dhanaṃ na raṭṭhaṃ
na iccheyya adhammena samiddhim attano
sa sīlavā paññavā dhammiko siyā."

Seseorang yang arif tidak berbuat jahat
demi kepentingannya sendiri ataupun orang lain,
demikian pula ia tidak menginginkan anak, atau kekayaan, atau kerajaan
dengan berbuat jahat maupun kesuksesan dengan cara yang tidak benar.
Orang seperti itulah yang sebenarnya luhur, bijaksana, dan berbudi.

Kisah Lima Ratus Bhikkhu (Dhammapada 6 : 83)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(83) Orang bajik membuang kemelekatan terhadap sesuatu, 
orang suci tidak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan nafsu keinginan. 
Dalam menghadapi kebahagiaan atau kemalangan, 
orang bijaksana tidak menjadi gembira maupun kecewa.
--------------------------------------------------------------------------------------------------

Atas permintaan seorang brahmana dari Veranja, Sang Buddha pada suatu saat tinggal di Veranja bersama lima ratus orang bhikkhu. Ketika berada di Veranja sang brahmana lalai untuk memperhatikan kebutuhan hidup mereka. Penduduk Veranja yang kemudian menghadapi kelaparan, hanya dapat mempersembahkan sangat sedikit dana pada saat bhikkhu berpindapatta. Kendatipun mengalami penderitaan para bhikkhu tidak berputus asa. Mereka hanya cukup mendapatkan makanan berupa padi-padian yang dipersembahkan para penjual kuda setiap hari. Saat akhir masa vassa tiba, setelah memberitahu sang brahmana, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana beserta lima ratus bhikkhu. Masyarakat Savatthi menyambut kedatangan mereka dengan bermacam-macam pilihan makanan.

Sekelompok orang yang hidup bersama para bhikkhu, memakan makanan yang tak dimakan oleh para bhikkhu. Mereka makan dengan rakus seperti orang yang benar-benar lapar, dan pergi tidur setelah mereka makan. Setelah bangun tidur, mereka berteriak, bernyanyi dan menari, mereka membuat suatu keributan.

Ketika Sang Buddha datang sore hari di tengah-tengah para bhikkhu, para bhikkhu melaporkan hal itu kepada beliau, perilaku orang-orang yang tidak dapat dikendalikan, dan berkata "Orang-orang ini hidup dari sisa makanan, mereka bersikap layak dan berperilaku baik ketika kita semua menghadapi penderitaan dan kelaparan di Veranja. Sekarang mereka cukup mendapat makanan yang baik, mereka berteriak, menyanyi, dan menari, serta membuat keributan di antara mereka sendiri. Berbeda dengan para bhikkhu. Para bhikkhu bagaimanapun keadaannya memiliki perilaku yang sama, baik di sini maupun di Veranja."

Kepada mereka Sang Buddha menjawab "Itu merupakan sifat alamiah dari orang bodoh, penuh dengan duka cita dan merasa tertekan ketika mereka dalam kesulitan, tetapi penuh dengan suka cita dan merasa gembira ketika sesuatu berjalan lancar. Orang bijaksana bagaimanapun keadaannya dapat bertahan dalam gelombang kehidupan baik naik maupun turun."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Sabbattha ve sappurisā vajanti,
na kāmakāmā lapayanti santo,
sukhena phuṭṭhā athavā dukhena
na uccāvacaṃ paṇḍitā dassayanti."

Orang bajik membuang kemelekatan terhadap sesuatu,
orang suci tidak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan nafsu keinginan.
Dalam menghadapi kebahagiaan atau kemalangan,
orang bijaksana tidak menjadi gembira maupun kecewa.

Kisah Kanamata (Dhammapada 6 : 82)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(82) Bagaikan danau yang dalam, airnya jernih dan tenang. 
Demikian pula batin para orang bijaksana, menjadi tentram
karena mendengarkan Dhamma.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kanamata (bhs Pali; mata = ibu, Kanamata = ibunya Kana) adalah umat awam berbakti, murid Sang Buddha. Anaknya yang bernama Kana telah menikah dengan seorang pemuda dari desa lain. Suatu ketika Kana menjenguk ibunya untuk beberapa waktu, suaminya mengirim pesan agar ia segera pulang ke rumah. Ibunya berkata kepadanya untuk menunggu beberapa hari sebab ia ingin membuatkan daging manis (dendeng) untuk suami Kana. Esoknya Kanamata membuat sejumlah dendeng, tetapi ketika empat bhikkhu berpindapatta di rumahnya, ia mendanakan sejumlah daging kepada mereka. Empat bhikkhu tersebut berkata kepada bhikkhu lainnya tentang persembahan dana makanan dari rumah Kanamata, mereka juga melakukan pindapatta di rumah Kanamata. Kanamata sebagai pengikut dan murid Sang Buddha mempersembahkan dendengnya kepada para bhikkhu yang datang satu persatu. Pada akhirnya tidak ada yang tersisa untuk Kana dan ia tidak dapat pulang ke rumahnya pada hari itu.

Hal yang sama terjadi pada dua hari berikutnya, ibunya membuat sejumlah dendeng, para bhikkhu datang berpindapatta di rumahnya, ia mempersembahkan dendengnya kepada para bhikkhu, sehingga tidak ada tersisa untuk dibawa pulang anaknya, dan anaknya tidak dapat pulang ke rumahnya.

Pada hari ketiga, suaminya mengirimkan pesan untuknya. Pesan yang merupakan suatu peringatan keras, jika ia tidak pulang ke rumah esok hari, maka suaminya akan menikah dengan wanita lain.

Tetapi pada esok harinya, Kana tetap tidak dapat pulang ke rumahnya, sebab ibunya mempersembahkan semua dendengnya untuk para bhikkhu. Peringatan keras tadi menjadi kenyataan, suami Kana menikah dengan wanita lain.

Kana menjadi tidak senang terhadap para bhikkhu. Ia beranggapan bahwa mereka yang menjadi gara-gara suaminya menikah lagi. Seringkali ia mencaci maki para bhikkhu, sehingga para bhikkhu akhirnya menjauh dari rumah Kanamata.

Mendengar perihal Kana, Sang Buddha pergi ke rumah Kanamata. Di sana Kanamata mempersembahkan sejumlah bubur nasi. Setelah menyantap persembahan itu, Sang Buddha menemui Kana dan bertanya kepadanya, "Apakah para bhikkhu menerima apa yang diberikan, atau yang tidak diberikan kepada mereka?" Kana menjawab bahwa para bhikkhu menerima apa yang diberikan kepada mereka, dan menambahkan bahwa "Mereka tidak bersalah, saya yang salah." Jadi ia mengakui kesalahannya dan kemudian memberi hormat kepada Sang Buddha.

Sang Buddha kemudian memberikan khotbah. setelah mendengarkan khotbah itu, Kana mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Pada perjalanan pulang ke vihara, Sang Buddha bertemu dengan Raja Pasenadi dari Kosala. Beliau mengatakan perihal Kana dan sikapnya yang tidak baik terhadap para bhikkhu. Raja Pasenadi bertanya apakah Sang Buddha telah dapat mengajarkan kebenaran (Dhamma) kepadanya dan membuatnya melihat Dhamma? Sang Buddha menjawab "Ya, Tathagata telah mengajarkan Dhamma kepadanya, dan Tathagatha juga telah membuatnya menjadi kaya dalam kehidupan mendatang." Kemudian Raja Pasenadi berjanji kepada Sang Buddha untuk membuatnya kaya dalam kehidupan sekarang.

Raja mengirimkan orang-orangnya untuk menjemput Kana dengan tandu. Ketika Kana tiba di istana, raja mengumumkan kepada para menterinya “Siapa yang dapat memberi kenyamanan hidup kepada anakku Kana, silahkan merawatnya." Salah seorang menteri dengan sukarela mengadopsi Kana sebagai anaknya, memberinya kekayaan dan berkata kepadanya, "Kamu boleh memberikan dana sebanyak yang kamu suka." Setiap hari Kana memberikan persembahan dana kepada para bhikkhu di empat gerbang kota.

Ketika diberitahukan tentang Kana dan kemurahan hatinya dalam memberikan dana, Sang Buddha bersabda, "Para bhikkhu pikiran Kana sebelumnya diselimuti kabut dan lumpur, sekarang telah menjadi jernih dan tenang oleh kata-kata-Ku."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Yathāpi rahado gambhīro vippasanno anāvilo
evaṃ dhammāni sutvāna vippasīdanti paṇḍitā."

Bagaikan danau yang dalam,
airnya jernih dan tenang.
Demikian pula batin para orang bijaksana,
menjadi tentram karena mendengarkan Dhamma.

Kisah Lakundaka Bhaddiya Thera (Dhammapada 6 : 81)

 VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(81) Bagaikan batu karang yang tak tergoncangkan oleh badai, 
demikian pula para bijaksana tidak akan terpengaruh oleh celaan maupun pujian.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Bhaddiya adalah salah satu bhikkhu yang tinggal di Vihara Jetavana. Karena tubuhnya pendek maka ia dikenal dengan sebutan Lakundaka (pendek) oleh para bhikkhu lainnya. Lakundaka Bhaddiya mempunyai sifat yang sangat baik, meskipun bhikkhu-bhikkhu muda sering menggodanya dengan menarik hidungnya atau telinganya atau menepuk kepalanya. Sangat sering mereka bercanda dan berkata "Paman, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu berbahagia, atau, apakah kamu bosan dengan kehidupan sebagai seorang bhikkhu di sini?" dan lain sebagainya. Lakundaka Bhaddiya tidak pernah membalas dengan kemarahan atau mencaci maki mereka, bahkan dalam hati kecilnya pun ia tidak marah terhadap mereka.

Ketika diceritakan tentang kesabaran Lakundaka Bhaddiya, Sang Buddha bersabda, "Seorang arahat tidak pernah marah maupun kehilangan kesabaran, ia tidak punya keinginan untuk berkata kasar atau berpikir menyakiti orang lain. Ia laksana batu karang yang tak tergoyahkan, seorang arahat tidak tergoyahkan karena celaan ataupun pujian."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

“Selo yathā ekaghano vātena na samīrati
evaṃ nindāpasaṃsāsu na samiñjanti paṇḍitā”

Bagaikan batu karang yang tak tergoncangkan oleh badai,
demikian pula para bijaksana tidak akan terpengaruh oleh celaan maupun pujian.

Kisah Samanera Pandita (Dhammapada 6 : 80)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(80) Pembuat saluran air mengalirkan air, 
tukang panah meluruskan anak panah, 
tukang kayu melengkungkan kayu, 
orang bijaksana mengendalikan dirinya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Pandita adalah seorang putra orang kaya di Savatthi. Ia menjadi seorang samanera pada saat berusia tujuh tahun. Pada hari ke delapan setelah menjadi samanera, ia pergi mengikuti Sariputta Thera berpindapatta, ia melihat beberapa petani mengairi ladangnya dan bertanya kepada Y.A. Sariputta thera "Dapatkah air yang tanpa kesadaran dibimbing ke tempat yang seseorang kehendaki?" Sang Thera menjawab, "Ya, air dapat dibimbing kemanapun yang dikehendaki seseorang."

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, samanera melihat beberapa pembuat anak panah memanasi panah mereka dengan api dan meluruskannya. Selanjutnya ia melewati beberapa tukang kayu sedang memotong, menggergaji, dan menghaluskan kayu untuk dibuat roda kereta.

Kemudian ia merenung "Jika air yang tidak memiliki kesadaran dapat diarahkan kemanapun yang seseorang inginkan, jika bambu bengkok yang tanpa kesadaran dapat diluruskan, dan jika kayu yang tanpa kesadaran dapat dibuat sesuatu yang berguna, mengapa saya, yang punya kesadaran, tidak dapat menjinakkan pikiranku dan melatih meditasi ketenangan dan pandangan terang?"

Saat itu juga ia memohon izin kepada Y.A. Sariputta untuk kembali ke kamarnya di vihara. Di sana ia bersemangat dan rajin bermeditasi, menggunakan tubuh jasmani sebagai objek perenungan. Sakka dan para dewa membantu pelaksanaan meditasinya dengan cara menjaga kesunyian suasana vihara dan sekitarnya. Sebelum waktu makan tiba, samanera Pandita mencapai tingkat kesucian anagami.

Waktu itu, Y.A. Sariputta membawakan makanan untuk samanera. Sang Buddha melihat dengan kemampuan batin luar biasa-Nya bahwa Samanera Pandita telah mencapai tingkat kesucian anagami, dan jika ia meneruskan melaksanakan meditasi, maka tidak lama lagi mencapai tingkat kesucian arahat. Kemudian Sang Buddha memutuskan untuk mencegah Sariputta memasuki kamar samanera. Sang Buddha berdiri di muka pintu kamar samanera dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Sariputta Thera. Ketika percakapan berlangsung di tempat itu, samanera mencapai tingkat kesucian arahat. Jadi, samanera mencapai tingkat kesucian arahat pada hari ke delapan setelah ia menjadi samanera.

Berkenaan dengan hal itu, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu di vihara, "Ketika seseorang dengan sungguh-sungguh melaksanakan Dhamma, Sakka dan para dewa akan melindunginya dan menjadi pelindung. Saya sendiri mencegah Sariputta masuk di muka pintu kamar, sehingga samanera Pandita tidak terganggu. Samanera setelah melihat petani mengairi ladangnya, pembuat anak panah meluruskan panah-panah mereka, dan tukang kayu membuat roda kereta, menjinakkan pikirannya dan melaksanakan Dhamma, ia sekarang telah menjadi seorang arahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Udakaṃ hi nayanti nettikā
usukārā namayanti tejanaṃ
dāruṃ namayanti tacchakā
attānaṃ damayanti paṇḍitā."

Pembuat saluran air mengalirkan air,
tukang panah meluruskan anak panah,
tukang kayu melengkungkan kayu,
orang bijaksana mengendalikan dirinya.

Kisah Mahakappina Thera (Dhammapada 6 : 79)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(79) Ia yang mengenal Dhamma
akan hidup berbahagia dengan pikiran yang tenang. 
Orang bijaksana selalu bergembira dalam ajaran yang dibabarkan oleh para Ariya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mahakappina adalah raja dari Kukkutavati. Ia mempunyai seorang permaisuri bernama Anoja. Ia juga memiliki seribu orang menteri yang membantu kelangsungan pemerintahan.

Suatu hari, Raja bersama seribu menterinya pergi ke taman. Di sana mereka bertemu dengan beberapa pedagang dari Savatthi. Mendengar tentang Buddha, Dhamma, dan Sangha dari para pedagang, Raja dan menteri-menterinya segera pergi ke Savatthi.

Pada hari itu, ketika Sang Buddha mengamati dunia dengan kemampuan batin luar biasa-Nya, Beliau melihat bahwa Mahakappina dan para menterinya sedang dalam perjalanan menuju Savatthi. Beliau juga mengetahui bahwa mereka dapat mencapai tingkat kesucian arahat.

Sang Buddha pergi ke suatu tempat yang jauhnya 120 yojana dari Savatthi intuk menemui mereka. Di sana, di bawah pohon banyan di tepi sungai Candabhaga, Sang Buddha menunggu mereka.

Raja Mahakappina dan para menterinya sampai di tempat dimana Sang Buddha menunggu. Ketika mereka melihat Sang Buddha dengan enam warna terpancar dari tubuhnya, mereka mendekati Sang Buddha dan menghormat kepada beliau. Sang Buddha kemudian memberikan khotbah kepada mereka. Setelah mendengarkan khotbah itu, raja dan para menterinya mencapai tingkat kesucian sotapatti. Mereka memohon kepada Sang Buddha untuk diterima menjadi bhikkhu. Sang Buddha melihat masa lalu (kehidupan lalu) mereka, dan mengetahui bahwa mereka sudah pernah mempersembahkan jubah kuning pada kehidupan lampau. Beliau lalu berkata kepada mereka, "Ehi bhikkhu", dan mereka semua menjadi bhikkhu.

Sementara itu, Permaisuri Anoja, mendengar tentang kepergian raja ke Savatthi, memanggil istri dari seribu orang menterinya dan bersama-sama mereka mengikuti jalan yang dilalui raja. Mereka juga sampai ke tempat dimana Sang Buddha sebelumnya menemui raja Kukkutavati. Mereka menemui Sang Buddha yang memancarkan enam warna dan kemudian menghormat Beliau. Pada saat itu Sang Buddha dengan kemampuan batin-Nya, membuat raja dan para menterinya tidak dapat dilihat, sehingga istri-istri mereka tidak dapat melihat mereka. Oleh karena itu, ratu bertanya dimana raja dan para menterinya berada. Sang Buddha berkata kepada ratu dan rombongannya untuk menunggu beberapa saat dan menyatakan tak lama lagi raja akan datang bersama para menterinya. Kemudian Sang Buddha memberikan khotbah lain kepada mereka. Pada saat khotbah berakhir, raja dan para menterinya mencapai tingkat kesucian arahat. Ratu dan para istri menteri mencapai tingkat kesucian sotapatti. Setelah itu ratu dan rombongannya melihat bhikkhu yang baru saja ditahbiskan dan mengenali mereka bahwa mereka sebelumnya adalah suaminya.

Wanita-wanita itu kemudian memohon izin kepada sang Buddha untuk diterima menjadi bhikkhuni; mereka langsung pergi ke Savatthi. Di sana mereka diterima menjadi bhikkhuni, dan tak lama kemudian mereka juga mencapai tingkat kesucian arahat. Kemudian Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana bersama seribu bhikkhu.

Di Vihara Jetavana, Mahakappina ketika beristirahat sepanjang malam atau pada siang hari sering berkata, "Oh, bahagia!" (Aho Sukham). Para bhikkhu yang mendengarkan beliau mengucapkan kata-kata itu beberapa kali dalam sehari, melaporkan hal tersebut kepada Sang Buddha. Kepada mereka sang Buddha menjawab "Anakku Kappina telah merasakan bahagianya kehidupan dalam Dhamma dengan pikiran yang tenang, ia mengucapkan kata-kata itu sebagai ungkapan kegembiraan yang meluap-luap berkenaan dengan nibbana."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Dhammapīti sukhaṃ seti vippasannena cetasā
ariyappavedite dhamme sadā ramati paṇḍdito."

Ia yang mengenal Dhamma akan hidup berbahagia
dengan pikiran yang tenang.
Orang bijaksana selalu bergembira dalam ajaran
yang dibabarkan oleh para Ariya.
------------

Notes :
Dari beberapa sumber lain, disebutkan bahwa Maha Kappina berasal dari daerah utara, Kukkutavati diperkirakan adalah daerah sekitar Kabul, atau Kamboja. Ia juga disebutkan memiliki kulit yang pucat, lebih putih dari orang India kebanyakan.

Dari tempat asalnya menuju Savatthi adalah perjalanan yang sangat jauh, dan harus menyeberangi 3 sungai besar. Karena itulah Sang Buddha menunggu mereka 120 yojana dari Savatthi di tepi sungai yang terakhir.
Satu yojana kira-kira berkisar antara 6-15 km, jadi 120 yojana kira-kira 720 - 1800 km. Kira kira seperti jarak Jakarta – Surabaya 781 km, tetapi kalau dilihat di peta, kira-kira jarak dari daerah sekitar New Delhi-sungai Gangga ke daerah dekat Lahore, yaitu sekitar 500-600 km. Sangat jauh... tapi tentu saja ini hal yang mudah untuk Sang Buddha ;)

Kisah Channa Thera (Dhammapada 6 : 78)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(78) Jangan bergaul dengan orang jahat, 
jangan bergaul dengan orang yang berbudi rendah, 
tetapi bergaullah dengan sahabat yang baik, 
bergaullah dengan orang yang berbudi luhur.
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Channa adalah kusir yang menyertai Pangeran Siddhattha ketika beliau meninggalkan istana dan keduniawian dengan menunggang seekor kuda. Ketika Sang Pangeran telah mencapai tingkat Kebuddhaan, Channa juga menjadi seorang bhikkhu. Sebagai seorang bhikkhu, ia sangat sombong dan bersikap ingin menguasai karena hubungannya yang dekat dengan Sang Buddha. Channa kerap berkata, "Saya yang menemani Tuanku ketika beliau meninggalkan istana dan menuju ke hutan. Pada waktu itu, saya satu-satunya teman beliau, dan tiada yang lainnya. Tetapi sekarang, Sariputta dan Mogallana mengatakan bahwa mereka berdua adalah Murid Utama dan mempunyai kekuasaan untuk mengatur dan memerintah para bhikkhu!"

Ketika Sang Buddha memanggilnya dan memperingatkan perihal perilakunya itu, ia diam, tetapi kemudian tetap mencela dua murid utama, Sariputta dan Mogallana. Sampai tiga kali Sang Buddha memanggil dan memperingatkannya, tetapi ia tetap tidak berubah. Sekali lagi Sang Buddha memanggil Channa, dan berkata, "Channa, dua bhikkhu yang mulia ini adalah teman yang baik untukmu, kamu harus bergaul dengan mereka dan jalinlah hubungan yang baik dengan mereka."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Na bhaje pāpake mitte na bhaje purisādhame,
bhajetha mitte kalyāṇe bhajetha purisuttame."

Jangan bergaul dengan orang jahat,
jangan bergaul dengan orang yang berbudi rendah,
tetapi bergaullah dengan sahabat yang baik,
bergaullah dengan orang yang berbudi luhur.

Walau telah diperingatkan beberapa kali dan nasehat-nasehat juga telah diberikan oleh Sang Buddha, Channa tetap berlaku sesuka hatinya dan terus berkata-kata yang tidak baik terhadap bhikkhu-bhikkhu tersebut. Mengetahui hal ini, Sang Buddha berkata, bahwa Channa tidak akan berubah selama Sang Buddha masih hidup, tetapi setelah Sang Buddha mangkat (parinibbana), Channa pasti akan berubah. Pada malam kemangkatanNya (parinibbana), Sang Buddha memanggil Ananda Thera ke samping tempat berbaring beliau dan memerintahkan Ananda Thera agar menjatuhkan hukuman Brahma (Brahmadanda*) kepada Channa. Sebagai contoh, para bhikkhu tidak boleh menghiraukannya dan tidak boleh berurusan dengan Channa.

Setelah Sang Buddha mangkat (parinibbana), Channa mendengar hukuman yang diberikan oleh Ananda Thera. Ia merasakan penyesalan yang mendalam atas kesalahan-kesalahannya sehingga ia tidak sadarkan diri sebanyak 3 kali. Kemudian ia mengakui kesalahannya kepada para bhikkhu dan meminta maaf. Pada saat itu, ia mengubah tingkah lakunya dan pandangannya. Ia juga patuh pada petunjuk mereka dalam praktek meditasi, dan beberapa waktu kemudian Channa mencapai tingkat kesucian arahat.
------------

Notes :
* brahmadanda : yaitu hukuman dimana para bhikkhu Sangha harus mendiamkan (tidak bicara dengan si terhukum), tidak menegur, menasehati ataupun memberi petunjuk, dan tidak berurusan dengan Channa.

Channa lahir pada hari yang sama dengan pangeran Siddhartha, ia adalah kusir pangeran Siddharta. Ia menjelaskan kepada pangeran Siddhartha mengenai 4 kejadian; yaitu ketika mereka berdua bertemu orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa. Selain itu juga ia menyertai pangeran Siddhartha ketika Siddhartha melaksanakan pelepasan agung dengan mencukur rambut dan memakai jubah pertapa. Karenanya Channa merasa sombong, merasa spesial, dan bersikap otoriter terhadap bhikkhu yang lain dan sering mengkritik kedua murid utama YA Sariputta & Moggallana. Ia tidak mau menerima petunjuk dan nasehat dari bhikkhu-bhikkhu lain. Ketika bhikkhu-bhikkhu lain menasehatinya, Channa malah balik berkata, “Kamu pikir kamu berhak menasehati aku ? Akulah yang harusnya menasehati kamu ! Sang Buddha adalah milikku, Dhamma adalah milikku, karena pangeran mudakulah Dhamma dapat direalisasikan dan dibabarkan..dst dst”.

Dan lain kali, ketika diperiksa mengenai pelanggaran yang lain, ia tidak mau menjawab dan diam saja. Pendek kata, bhikkhu Channa ini tidak bisa dinasehati, beberapa kali telah dikenakan sanksi, dan ini adalah sanksi yang terakhir yang akhirnya bisa mengubah sifat beliau.

Untungnya, pelanggaran yang dilakukan beliau bukanlah pelanggaran besar.

Pelanggaran paling besar bagi seorang bhikkhu/bhikkhuni adalah 4 Parajika (yaitu melakukan hubungan seks baik dengan hewan/manusia/makhluk lain, mencuri, membunuh manusia, mengaku sudah mencapai tingkat tertentu padahal belum).

Jika seorang bhikkhu/bhikkhuni melakukan salah satu dari 4 parajika ini, begitu ia melakukannya otomatis dia bukan bhikkhu lagi, ia telah ‘dikalahkan’ (parajika = defeated = dikalahkan), dan tidak berhak lagi mengenakan jubah bhikkhu dan menjadi anggota Sangha. Kalau ia tidak punya kesadaran sendiri untuk lepas jubah dan tidak ada yang mengeluarkannya dari Sangha (karena tidak ada yang tahu atau pura-pura tidak tahu), statusnya bukan lagi bhikkhu, tetapi hanya sebagai penipu yang mengenakan jubah bhikkhu. Seorang bhikkhu yang telah melanggar 4 Parajika, tidak dapat kembali menjadi anggota Sangha dalam kehidupan yang sama/sekarang.

Kisah Bhikkhu Assaji dan Punabbasuka (Dhammapada 6 : 77)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(77) Biarlah ia memberi nasehat, petunjuk,
dan melarang apa yang tidak baik,
orang bijaksana akan dicintai oleh orang yang baik
dan dijauhi oleh orang yang jahat.
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Bhikkhu Assaji dan Punabbasuka bersama dengan lima ratus orang muridnya, tinggal di desa Kitagiri. Ketika bertempat tinggal di desa itu, mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara menanam bunga dan pohon buah-buahan untuk keuntungan. Jadi mereka melanggar peraturan dasar bagi kehidupan para bhikkhu.

Setelah Sang Buddha mendengar hal itu, beliau mengirimkan dua orang siswa utama-Nya, Sariputta dan Maha Moggallana, untuk menghentikan perbuatan mereka yang tidak patut. Kepada kedua siswa utama-Nya Sang Buddha berkata, "Katakan kepada para bhikkhu itu, jangan merusak keyakinan dan kemurahan hati umat awam dengan perbuatan yang tidak patut. Jika mereka tidak patuh, paksalah mereka untuk keluar dari vihara. Jangan ragu-ragu untuk melakukan seperti apa yang telah saya katakan kepadamu, karena hanya orang bodoh tidak menyukai orang yang memberikan nasehat baik dan melarang berbuat jahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Ovadeyyānusāseyya asabbhā ca nivāraye,
sataṃ hi so piyo hoti asataṃ hoti appiyo."

Biarlah ia memberi nasehat, petunjuk,
dan melarang apa yang tidak baik,
orang bijaksana akan dicintai oleh orang yang baik
dan dijauhi oleh orang yang jahat.
----------

Notes :
sekadar bahan renungan untuk menggelitik pembaca :
apakah ketika dinasehati, kita tidak mau menerimanya karena merasa lebih tau dan lebih bijaksana ?
ataukah sebaliknya, kita merasa lebih bijaksana lalu menasehati orang lain,
padahal pemahaman dan kebijaksanaan kita sebenarnya masih kurang ?

Kisah Bhikkhu Radha (Dhammapada 6 : 76)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana 

(76) Pandanglah seseorang yang menegur dan menunjukkan kesalahanmu 
Seperti orang yang menunjukkan harta karun
Bergaullah dengan orang bijaksana itu
Karena orang yang bergaul dengannya
Akan menjadi lebih baik, dan tidak menjadi lebih buruk
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Radha adalah seorang brahmana miskin yang tinggal di vihara dan melakukan pelayanan kecil untuk para bhikkhu. Atas pelayanannya ia memperoleh makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya. Tidak ada seorang pun yang mendorongnya menjadi seorang bhikkhu, meskipun ia mempunyai keinginan yang besar untuk menjadi bhikkhu.

Suatu hari, ketika hari menjelang pagi Sang Buddha mengamati dunia dengan kemampuan batin luar biasa-Nya. Dilihat-Nya brahmana tua itu mempunyai kesempatan untuk mencapai tingkat kesucian arahat.

Paginya, Sang Buddha pergi menemui brahmin tua itu dan mengetahui bahwa para bhikkhu di vihara tersebut tidak menginginkan brahmin tua itu bergabung dalam pasamuan bhikkhu.

Sang Buddha mengundang para bhikkhu dan bertanya, "Apakah ada di antara para bhikkhu di sini yang mengingat hal baik yang pernah dilakukan oleh orang tua ini?"

Atas pertanyaan ini Yang Ariya Sariputta menjawab "Bhante, saya mengingat satu peristiwa ketika orang tua itu memberikan sesendok nasi kepada saya".

"Jika demikian", Sang Buddha berkata: "Tidakkah seharusnya kamu menolong dermawan itu untuk membebaskannya dari penderitaan hidup?"

Yang Ariya Sariputta setuju untuk menjadikan orang tua itu sebagai seorang bhikkhu dan kemudian menerimanya ke dalam Sangha sesuai tatacara semestinya. YA Sariputta membimbing bhikkhu tua itu dan bhikkhu tua itu mengikutinya dengan sungguh-sungguh. Dalam waktu beberapa hari, bhikkhu tua itu telah mencapai tingkat kesucian Arahat.

Ketika Sang Buddha datang untuk menemui para bhikkhu, mereka melaporkan bagaimana tekunnya bhikkhu tua itu mengikuti bimbingan YA Sariputta. Kepada mereka, Sang Buddha menjawab bahwa para bhikkhu seharusnya mudah dibimbing seperti Radha dan tidak jengkel ketika mendapat celaan atas kesalahan atau kelemahannya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Nidhinaṃ va pavattāraṃ yaṃ passe vajjadassinaṃ
niggayhavādiṃ medhāviṃ tādisaṃ paṇḍitaṃ bhaje,
tādisam bhajamānassa seyyo hoti na pāpiyo."

Pandanglah seseorang yang menegur dan menunjukkan kesalahanmu
Seperti orang yang menunjukkan harta karun
Bergaullah dengan orang bijaksana itu
Karena orang yang bergaul dengannya
Akan menjadi lebih baik, dan tidak menjadi lebih buruk

Kisah Samanera Tissa Yang Berdiam Di Hutan (Dhammapada 5 : 75)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(75) Ada jalan menuju pada keuntungan duniawi, dan
ada jalan lain yang menuju ke Nibbana.
Setelah menyadari hal ini dengan jelas,
hendaklah seseorang bhikkhu siswa Sang Buddha
tidak bergembira dalam hal-hal duniawi,
tetapi mengembangkan pembebasan diri.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tissa adalah seorang putra hartawan dari Savatthi. Ayahnya biasa memberi dana makanan kepada Murid Utama Sang Buddha, Sariputta Thera di rumahnya. Karenanya sejak kecil Tissa sudah sering berjumpa YA Sariputta dalam banyak kesempatan.

Pada umur 7 tahun ia menjadi seorang samanera dibawah bimbingan Sariputta Thera. Ketika ia tinggal di Vihara Jetavana, banyak teman dan saudara-saudaranya yang mengunjunginya, membawa pemberian/hadiah dan dana. Samanera berpikir bahwa kunjungan ini sangat menjemukan, sehingga setelah mempelajari salah satu objek meditasi dari Sang Buddha, ia pergi ke menuju vihara di hutan. Setiap kali penduduk mendanakan sesuatu, Tissa hanya berkata "Semoga kamu berbahagia, bebas dari penderitaan," (Sukhita hotha, dukkha muccatha), dan kemudian ia berlalu.

Ketika tinggal di vihara hutan, ia tekun dan rajin berlatih meditasi, dan pada akhir bulan ketiga ia mencapai tingkat kesucian arahat.

Setelah selesai masa vassa, Y.A. Sariputta ditemani oleh Y.A. Maha Moggallana dan beberapa orang bhikkhu senior datang mengunjungi Samanera Tissa, dengan seizin Sang Buddha.

Seluruh penduduk desa keluar untuk menyambut Y.A. Sariputta bersama rombongan 4.000 bhikkhu. Mereka juga memohon agar Y.A. Sariputta berkenan menyampaikan khotbah, tetapi sang murid utama meminta muridnya, Samanera Tissa, untuk menyampaikan khotbah kepada penduduk desa.

Para penduduk desa, berkata bahwa guru mereka, Samanera Tissa, hanya dapat berkata, "Semoga anda berbahagia, bebas dari penderitaan," dan mohon kepada Y.A. Sariputta untuk menugaskan bhikkhu yang lain.

Tetapi Y.A. Sariputta tetap meminta Samanera Tissa untuk memberikan khotbah dhamma, dan berkata kepada Tissa, "Tissa, berbicaralah kepada mereka tentang dhamma, dan tunjukkanlah kepada mereka bagaimana mencapai kebahagiaan dan bagaimana bebas dari penderitaan."

Demikianlah, mematuhi gurunya, Samanera Tissa pergi menuju tempat ceramah untuk berkhotbah. Ia menjelaskan kepada para penduduk desa, arti kelompok kehidupan (khandha), landasan indria dan objek indria (ayatana), faktor-faktor menuju penerangan/Pencerahan sempurna (Bodhipakkhiya Dhamma), jalan menuju kesucian arahat dan nibbana, dan sebagainya. Dan akhirnya ia mengakhirinya dengan "Mereka yang mencapai tingkat kesucian arahat terbebas dari semua penderitaan dan mencapai kedamaian sempurna; sementara yang lainnya masih berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir (samsara)."

Y.A. Sariputta memuji Tissa telah menyampaikan khotbah Dhamma dengan baik.
Fajar mulai menyingsing ketika ia menyelesaikan uraiannya, dan seluruh penduduk desa sangat terkesan. Beberapa dari mereka terkejut karena Samanera Tissa memahami Dhamma dengan baik, tetapi mereka juga merasa tidak puas, karena sebelumnya ia hanya sedikit mengajarkan Dhamma kepada mereka; sedangkan yang lain merasa bahagia mengetahui samanera tersebut sangat terpelajar dan merasa bahwa mereka sangat beruntung Samanera Tissa berada di antara mereka.

Sang Buddha, dengan kemampuan batin luar biasa-Nya, melihat dari Vihara Jetavana bahwa timbul dua kelompok penduduk desa, kemudian Beliau menampakkan diri, untuk menjernihkan kesalah-pahaman yang ada. Sang Buddha tiba di pagi hari ketika para penduduk desa sedang menyiapkan dana makanan untuk para bhikkhu. Maka, mereka mempunyai kesempatan untuk berdana makanan kepada Sang Buddha. Setelah bersantap, Sang Buddha berkata kepada para penduduk desa, "O umat awam, kamu semua sangat beruntung memiliki Samanera Tissa di antara kalian. Karena dengan kehadirannya di sini, aku, murid-murid utama-Ku, bhikkhu-bhikkhu senior dan banyak bhikkhu lainnya saat ini hadir mengunjungi kalian." Kata-kata ini menyadarkan para penduduk desa bagaimana beruntungnya mereka bersama Samanera Tissa dan mereka sangat puas.

Sang Buddha kemudian menyampaikan khotbah kepada para penduduk desa dan para bhikkhu, dan kemudian beberapa dari mereka mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Selesai menyampaikan khotbah, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana. Sore harinya, para bhikkhu memuji Samanera Tissa dihadapan Sang Buddha, "Bhante, Samanera Tissa telah melakukan sesuatu yang tidak mudah, meskipun ia telah memperoleh pemberian dan dana dari orang-orang Savatthi, tetapi meninggalkannya dan pergi hidup sederhana di dalam hutan."

Kepada mereka Sang Buddha menjelaskan, "Para bhikkhu, seorang bhikkhu, baik di kota ataupun di desa, seharusnya ia tidak hidup disana hanya karena demi pemberian dan dana semata. Jika seorang bhikkhu meninggalkan semua keuntungan keduniawian dan rajin melaksanakan Dhamma, maka ia pasti akan mencapai tingkat kesucian arahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Aññā hi lābhūpanisā aññā nibbānagāminī,
evam etaṃ abhiññāya bhikkhu Buddhassa sāvako
sakkāraṃ nābhinandeyya vivekam anubrūhaye."

Ada jalan menuju pada keuntungan duniawi,
dan ada jalan lain yang menuju ke Nibbana.
Setelah menyadari hal ini dengan jelas,
hendaklah seseorang bhikkhu siswa Sang Buddha
tidak bergembira dalam hal-hal duniawi,
tetapi mengembangkan pembebasan diri.

Kisah Citta, Seorang Perumah Tangga (Dhammapada 5 : 73-74)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh 

(73) Seorang bhikkhu yang bodoh,
menginginkan ketenaran yang keliru,
ingin didahulukan di antara para bhikkhu,
ingin berkuasa dalam vihara-vihara,
dan penghormatan dari perumahtangga.

(74) "Biarlah umat awam dan para bhikkhu berpikir bahwa hal ini dilakukan olehku,
dan mematuhiku dalam semua hal, besar atau kecil"
demikianlah ambisi bhikkhu yang bodoh itu,
keinginan serta kesombongannya pun terus bertambah.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Citta, seorang perumah tangga, suatu hari berjumpa dengan Mahanama Thera, salah seorang dari lima bhikkhu pertama (pancavaggiya), yang sedang berpindapatta, dan mengundang thera tersebut ke rumahnya.

Di sana, ia mendanakan makanan kepada thera tersebut dan setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Mahanama Thera, Citta mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian, Citta membangun sebuah vihara di kebun mangganya. Di sana, ia memenuhi kebutuhan semua bhikkhu yang datang ke viharanya dan bhikkhu Sudhamma tinggal di tempat itu.

Suatu hari, dua orang murid utama Sang Buddha, Y.A. Sariputta dan Y.A. Maha Moggallana, datang ke vihara tersebut. Setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Y.A. Sariputta, Citta mencapai tingkat kesucian anagami.

Kemudian, ia mengundang dua murid utama sang Buddha tersebut ke rumahnya untuk menerima dana makan esok hari. Ia juga mengundang bhikkhu Sudhamma, tetapi beliau menolak dengan marah dan berkata, "Kamu mengundangku setelah mengundang dua bhikkhu tersebut."

Citta mengulang kembali undangannya, tetapi undangan tersebut ditolak. Walaupun demikian bhikkhu Sudhamma pergi ke rumah Citta pagi-pagi keesokan harinya. Ketika dipersilahkan masuk, Sudhamma menolak dan berkata bahwa dia tidak akan duduk karena dia sedang berpindapatta.

Ketika dia melihat makanan yang didanakan kepada dua orang murid utama Sang Buddha, dia sangat iri dan tidak dapat menahan kemarahannya. Dia mencaci Citta dan berkata, "Aku tidak ingin tinggal di viharamu lagi!" dan meninggalkan rumah tersebut dengan penuh kemarahan.

Dari sana, dia mengunjungi Sang Buddha dan melaporkan segala yang telah terjadi. Kepadanya, Sang Buddha berkata, "Kamu telah menghina seorang umat awam yang berdana dengan penuh keyakinan dan kemurahan hati. Kamu lebih baik kembali ke sana dan mengakui kesalahanmu." Sudhamma melakukan apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha, tetapi Citta belum mau memaafkannya. maka dia kembali menghadap Sang Buddha untuk ke dua kalinya. Sang Buddha, mengetahui bahwa kesombongan Sudhamma telah berkurang pada waktu itu. Kemudian Beliau berkata, "Anakku, seorang bhikkhu yang baik seharusnya tidak terikat dengan berkata, "ini adalah viharaku, ini tempatku, dan ini adalah muridku," dan sebagainya, dengan berpikir demikian keterikatan dan kesombongan akan bertambah."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Asataṃ bhāvanam iccheyya
Purekkhārañ ca bhikkhusu
āvāsesu ca issariyaṃ
pūjā parakulesu ca.

“Mam’ eva kata maññantu gihī pabbajitā ubho
Mam’ evātivasā assu kiccākiccesu kismici”
iti bālassa saṃkappo, icchā māno ca vaḍḍhati."

Seorang bhikkhu yang bodoh,
menginginkan ketenaran yang keliru,
ingin didahulukan di antara para bhikkhu,
ingin berkuasa dalam vihara-vihara,
dan penghormatan dari perumahtangga.

"Biarlah umat awam dan para bhikkhu berpikir bahwa hal ini dilakukan olehku,
dan mematuhiku dalam semua hal, besar atau kecil"
demikianlah ambisi bhikkhu yang bodoh itu,
keinginan serta kesombongannya pun terus bertambah.

Setelah khotbah dhamma itu berakhir, Sudhamma pergi ke rumah Citta, dan pada saat itu mereka dapat berdamai. Dalam waktu tidak beberapa lama, Sudhamma mencapai tingkat kesucian arahat.
----------

Notes :

* Biasanya, sebelum mengundang bhikkhu lain, Citta akan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan bhikkhu Sudhamma, kali ini tidak, bahkan bhikkhu Sudhamma diundang setelah mengundang kedua siswa utama tsb.

**Citta belum mau memaafkan karena Citta merasa bahwa bhikkhu Sudhamma masih belum menyadari penuh apa kesalahannya.

Tetapi, dalam komentar yang lain, penjelasannya sedikit berbeda: bhikkhu Sudhamma sudah mendekati tempat tinggal Citta, ia merasa sangat malu dan akhirnya berbalik pulang tanpa menemui Citta. Bhikkhu-bhikkhu yang lain bertanya kepadanya apakah ia telah meminta maaf, setelah mengetahui bahwa ternyata ia belum meminta maaf, melaporkannya kepada Sang Buddha. Kemudian Sang Buddha menyarankan agar seorang bikkhu lain menemani bikkhu Sudhamma meminta maaf. Akhirnya bhikkhu Sudhamma meminta maaf kepada Citta dan Citta memaafkannya. (Cv 1:18-24).

Kisah Satthikutapeta (Dhammapada 5 : 72)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh 

(72) Keahlian bagi orang yang bodoh, dapat mencelakai dirinya sendiri
menghancurkan perbuatan baik dan kebijaksanaannya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Murid utama Maha Moggallana melihat makhluk peta (hantu kelaparan) yang sangat besar, ketika sedang menerima dana makanan bersama Lakkhana Thera.

Berkenaan dengan hal ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa makhluk itu bernama Satthikuta, pada salah satu kehidupannya yang lampau, adalah seorang yang sangat pandai melempar batu. Pada suatu hari, dia minta izin dari gurunya untuk menguji ketrampilannya. Gurunya berkata agar tidak melempar seekor sapi, atau manusia, yang akan menyebabkan dia harus membayar kerugian kepada pemiliknya atau sanak keluarganya. Ia disarankan untuk mencari sasaran yang tidak ada pemiliknya atau tidak ada walinya.

Ketika melihat seorang Paccekabuddha, orang bodoh itu berpikir, bahwa Paccekabuddha, tidak mempunyai sanak saudara maupun wali, adalah sasaran yang tepat. Maka dia melempar sebuah batu kepada Paccekabuddha yang sedang berpindapatta. Batu itu masuk ke dalam satu telinga Paccekabuddha dan keluar pada telinga satunya. Paccekabuddha itu meninggal dunia begitu sampai di vihara. Pelempar batu itu mati dibunuh oleh pengikut-pengikut Paccekabuddha, dan ia dilahirkan kembali di neraka Avici.

Setelah itu, dia dilahirkan kembali sebagai makhluk peta, dan sejak itu dia mengalami akibat dari perbuatan buruk yang telah dilakukan, sebagai makhluk peta dengan kepala yang sangat besar dan terus menerus dipukul palu yang membara.

Pada akhir penjelasan, Sang Buddha berkata, "Bagi orang bodoh, ketrampilan atau pengetahuan tidak ada gunanya; hal itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Yāvad eva anatthāya ñattaṃ bālassa jāyati
hanti bālassa sukkaṃsaṃ muddham assa vipātayaṃ."

Keahlian bagi orang yang bodoh, dapat mencelakai dirinya sendiri
menghancurkan perbuatan baik dan kebijaksanaannya (membelah kepalanya sendiri).

Kisah Ahipeta (Dhammapada 5 : 71)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(71) Suatu perbuatan jahat yang telah dilakukan tidak segera menghasilkan buah,
seperti air susu yang tidak langsung menjadi dadih;
Demikianlah perbuatan jahat mengikuti orang bodoh,
seperti api membara yang tertutup abu.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Murid utama Sang Buddha, Maha Moggallana Thera sedang dalam perjalanan untuk menerima dana makanan bersama Lakkhana Thera di Rajagaha. Ketika melihat sesuatu, beliau tersenyum, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Setelah tiba di vihara, Maha Moggallana Thera memberitahu Lakkhana Thera, bahwa beliau tersenyum karena melihat makhluk peta (hantu kelaparan) dengan kepala manusia dan bertubuh ular.

Sang Buddha kemudian berkata bahwa beliau sendiri telah melihat makhluk peta tersebut pada saat Beliau mencapai Penerangan sempurna. Sang Buddha juga menerangkan bahwa di waktu yang lampau, ada seorang Paccekabuddha yang dihormati oleh banyak orang. Orang-orang pergi ke mengunjungi pondok kediaman beliau harus melalui sebuah ladang. Pemilik ladang tersebut khawatir ladangnya akan rusak disebabkan oleh banyak orang lalu lalang pergi ke pondok, membakar pondok itu. Akibatnya Paccekabuddha itu harus berpindah ke tempat lain. Murid-murid Paccekabuddha menjadi sangat marah kepada pemilik ladang tersebut, mereka memukuli dan membunuhnya.

Pemilik ladang itu dilahirkan kembali di neraka Avici. Kelahirannya saat sekarang ini sebagai makhluk setan, merupakan akibat dari perbuatan buruk yang telah ia lakukan pada masa lampau.

Pada akhir penjelasannya, Sang Buddha berkata, "Sebuah perbuatan buruk tidak langsung berbuah, tetapi akan selalu mengikuti si pembuat kejahatan. Tidak ada yang dapat melarikan diri dari akibat perbuatan jahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Na hi pāpaṃ kataṃ kammaṃ
sajju khīraṃ va mucchati
ḍahantaṃ bālam anveti
bhasmācchanno va pāvako."

Suatu perbuatan jahat yang telah dilakukan tidak segera menghasilkan buah,
seperti air susu yang tidak langsung menjadi dadih;
Demikianlah perbuatan jahat mengikuti orang bodoh,
seperti api membara yang tertutup abu.

Kisah Jambuka Thera (Dhammapada 5 : 70)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(70) Biarpun bulan demi bulan orang bodoh memakan makanannya
dengan ujung rumput kusa, namun demikian ia tidak berharga
seperenambelas bagian dari mereka yang telah mengerti Dhamma dengan baik.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Jambuka adalah putra seorang hartawan di Savatthi. Berkaitan dengan perbuatan buruk yang dilakukannya di masa lampau, ia dilahirkan dengan kelakuan yang sangat aneh.

Ketika masih anak-anak, ia tidur di lantai tanpa alas kasur, dan memakan kotorannya sendiri sebagai ganti nasi. Ketika ia beranjak dewasa, orang tuanya mengirim kepada Ajivaka, pertapa telanjang. Ketika pertapa itu mengetahui kebiasaan makannya yang aneh, mereka mengusir Jambuka. Pada malam hari ia makan kotoran manusia dan pada siang hari berdiri dengan satu kaki, dan membiarkan mulutnya terbuka. Ia selalu mengatakan bahwa ia membiarkan mulutnya terbuka sebab ia hanya hidup dari udara dan berdiri dengan satu kaki sebab akan terlalu berat berat bagi bumi untuk menerima beban tubuhnya. "Saya tidak pernah duduk, saya tidak pernah tidur," ia membual, dan oleh karena itu ia dikenal dengan nama Jambuka, yang artinya serigala.

Banyak orang mempercayainya dan beberapa datang kepadanya sambil membawa dana makanan. Jambuka akan menolak dan berkata, "Saya tidak makan apapun kecuali udara." Ketika dipaksa, dia akan mengambil sedikit makanan itu dengan menggunakan ujung rumput kusa, dan berkata: "Sekarang pergilah, sedikit makanan tadi akan memberikan cukup banyak kebajikan bagi anda."

Dengan cara ini, Jambuka hidup selama lima puluh lima tahun, telanjang dan hanya makan kotoran.

Suatu hari Sang Buddha melihat bahwa Jambuka akan mencapai tingkat kesucian arahat dalam waktu singkat. Maka pada sore harinya Sang Buddha pergi ke tempat Jambuka tinggal dan menanyakan dimanakah Ia dapat bermalam. Jambuka menunjukkan sebuah gua yang ada di gunung, tidak jauh dari lempengan batu tempat dimana ia tinggal.

Sewaktu malam jaga pertama*, kedua, dan ketiga, dewa-dewa Catumaharajika, Sakka, dan Mahabrahma datang memberikan penghormatan secara bergantian kepada Sang Buddha. Pada ketiga kesempatan tersebut, hutan itu terang benderang dan Jambuka menyaksikan ketiga cahaya tersebut. Pagi harinya, ia pergi menuju tempat Sang Buddha dan bertanya tentang cahaya tersebut.

Ketika diberitahu bahwa dewa-dewa, Sakka dan Mahabrahma datang memberikan hormat pada Sang Buddha, Jambuka sangat terkesan, dan berkata kepada Sang Buddha: "Engkau pasti, sungguh-sungguh merupakan orang besar bagi para dewa, Sakka, dan Mahabrahma, sehingga mereka datang dan memberikan hormat kepadamu. Sedangkan aku, meskipun telah berlatih hidup sederhana selama 55 tahun, hidup dari udara dan berdiri dengan satu kaki, tidak satu dewa pun, tidak juga Sakka, Mahabrahma pernah datang mengunjungiku."

Sang Buddha berkata kepadanya, "O, Jambuka! Kamu dapat menipu orang lain, tetapi kamu tidak dapat menipuku. Saya tahu bahwa selama 55 tahun kamu makan kotoran dan tidur di tanah."

Lebih jauh Sang Buddha menerangkan kepadanya bagaimana dalam kehidupannya yang lampau pada masa Buddha Kassapa, Jambuka telah menghalangi seorang thera untuk berkunjung ke rumah umat awam yang ingin berdana makanan dan bagaimana ia telah membuang makanan untuk thera tersebut yang dititipkan kepadanya. Karena kejahatannya itulah Jambuka sekarang makan kotoran dan tidur di tanah. Mendengar penjelasan tersebut, Jambuka sangat terkejut dan menyesal telah berbuat jahat dan telah menipu orang lain.

Ia berlutut di hadapan Sang Buddha, dan Sang Buddha memberinya selembar kain untuk dikenakan. Sang Buddha kemudian memberikan khotbah; dan pada akhir khotbah, Jambuka mencapai tingkat kesucian arahat serta menjadi murid Sang Buddha.

Murid Jambuka dari Anga dan Magadha datang dan mereka sangat terkejut melihat Jambuka bersama Sang Buddha. Jambuka menjelaskan kepada mereka bahwa ia telah menjadi anggota Sangha dan menjadi murid Sang Buddha. Kepada mereka Sang Buddha berkata, meskipun guru mereka telah hidup sederhana dengan makan makanan yang sangat sedikit sekali, tetapi hal itu tidak ada manfaatnya, bahkan tidak bernilai 1/16 bagian dari latihan dan pencapainnya yang sekarang.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Māse mase kusaggena bālo bhuñjetha bhojanaṃ
na so saṃkhātadhammānaṃ kalaṃ nāgghati soḷasiṃ."

Biarpun bulan demi bulan orang bodoh memakan makanannya dengan ujung rumput kusa,
namun demikian ia tidak berharga seperenambelas dari mereka yang telah mengerti Dhamma dengan baik.
----------

Notes :
* jaman dahulu, waktu malam hari dibagi menjadi 3 bagian; yaitu malam jaga pertama (jam 6 – 10 malam), malam jaga kedua ( jam 10 malam – 2 pagi) , dan malam jaga ketiga (jam 2 - 6 pagi ).

Older Posts